Pages

Subscribe:

Labels

Showing posts with label Remaja. Show all posts
Showing posts with label Remaja. Show all posts

Monday, 10 March 2014

Ngerumpi Bareng Kuntilanak

”Kenapa sih harus ada pelajaran Fisika?”, teriak Tanto tiba-tiba. Malam ini mereka sedang belajar bersama di teras rumah kosong paling ujung di kompleks perumahan tempat tinggal Tantri.  Ketiga teman kita ini sedang kumat sintingnya. Kan seharusnya belajar di rumah dong, masa di rumah kosong? Kan nanti bisa disangka mau mesum.

”Kok kamu nanya begitu?”, tanya Tristan sambil menggigit asbak bekas abu rokok. Berhubung mulutnya sedang gatal, sementara tidak ada cemilan maka dia mengigit apa saja yang berada dalam jangkauannya.

”Aku nggak suka pelajaran Fisika. Bikin pusing”.
”Berarti Fisika memang sengaja ada untuk menyiksa kamu”, timpal Tantri.
”Uhhhh, Matematika saja udah cukup bikin puyeng, apalagi ditambah Fisika. Terkutuklah semua ahli Fisika. Terkutuklah Albert Einstein, terkutuklah Thomas Alfa Edison, terkutuklah Neil Armstrong, terkutuklah Mike Tyson”

Tantri dan Tristan saling berpandangan. Mike Tyson? Sejak kapan Mike Tyson berubah profesi menjadi ahli Fisika?

”By the way, kok enggak ada ya yang ronda malam ini?”. 
Tanto baru sadar bahwa sejak tadi tidak ada bapak-bapak kompleks yang seliweran, padahal jam segitu biasanya sudah ada yang ronda.
“Maklum, sekarang kan malam Jumat Kliwon. Jadi mungkin pada takut keluyuran malam-malam”
”Emang kalau malam Jumat Kliwon kenapa sih?”, tanya Tristan penasaran.
”Malam Jumat Kliwon itu malam keramat”.
”Keramat bagaimana maksudnya?”
”Keramat ya keramat”
”Maksudnya ada kera bernama Mamat?”
”Ngawur”

”Konon katanya malam Jumat Kliwon itu hantu-hantu suka menebar pesona”
”Menebar pesona? Menebar pesona sama siapa?”
”Ya sama manusia dong, masa sama kawanan kambing?”
”Kok nggak menebar pesona sama sesama hantu saja?”
”Udah bosan kali. Mungkin ingin memperluas pangsa pasar. Istilahnya go interalam”.
”Go interalam? Aku baru dengar istilah itu”. Tristan tampak surprise mendengar istilah baru itu.

”Itu istilah ciptaan-ku. Kalo Anggun C. Sasmi kan go internasional, maksudnya berkiprah melewati batas antar negara.  Nah kalo di dunia hantu namanya go interalam, maksudnya berkiprah  melewati batas antar alam”, kata Tanto sok tau.
”Pakai passport dong?”
”Ah, nggak penting. Yang penting bisa nakut-nakutin aja udah langsung bisa punya akses ke dunia manusia kok”.
”Kok kamu tau banget soal birokrasi dunia hantu. Pernah jadi hantu ya?”
”Semprul!”

”Psssstttt”. Tiba-tiba Tanto pasang tampang serius sambil pasang telinga. ”Kalian denger sesuatu nggak?”
”Eh iya, kayaknya ada yang nyanyi seriosa malam-malam”.
”Mungkin latihan untuk festival Bintang Radio dan Televisi”
”Ngawur. Hari gini sudah enggak ada lagi festival begituan”

”Eh, dengerin baik-baik deh. Kayaknya bukan nyanyi seriosa, tetapi nangis-nangis”
”Itu bukan nangis, dia sedang improvisasi tuh”
”Ih, improvisasi kok seperti tersedu-sedu gitu?”
”Dan suaranya kok terdengar semakin jauh ya...”
”Iya, mungkin latihan seriosanya sambil jalan-jalan keliling kompleks kali”

”Hihihihihihihihihi!!!!!!!!!!!!!!!!!”. Tiba-tiba suara tawa terkikik mengagetkan mereka.

”Eh, nenek-nenek naik tandu pramuka!!!”. Seperti biasa, kalau kaget Tristan langsung latah menggunakan susunan kata-kata yang berantakan. 
Suara tertawa di belakang mereka benar-benar mengejutkan. Ketiganya menoleh ke arah jendela yang menghadap teras. Di balik kacva jendela berdiri seorang perempuan berwajah judes, rambut panjang awut-awutan dan memakai daster warna putih yang berkibar-kibar gontai pada bagian bawahnya.

”Hihihihih, gitu aja kok kaget. Lagi ngerumpiin saya ya?”, sapa kuntilanak itu sambil terkikik sok manja.
”Oh, jadi tadi mbak ini yang nyanyi seriosa itu? Kok latihan seriosa malam-malam sih, Mbak. Nanti kalau ada anak kecil dengerin, dia bisa mimpi buruk lho”.
”Ah kalian ini nggak tau seni drama. Itu saya lagi nangis-nangis”
”Lho, kok malam-malam nangis?”
”Emang ada larangan kalo malam-malam enggak boleh nangis?”. Kuntilanaknya sewot.
”Enggak sih, cuma enggak etis aja”
”Ih, asal deh yey”, jawab Kuntilanak gemas sambil memelototi Tristan.

”Kenapa sih mbak malam-malam begini tersedu-sedu begitu. Anak kucing mbak ada yang mati?”
”Itu kan ciri khas saya. Kalau saya ngesot, namanya Suster Ngesot dong”
”Lha, emang mbak ini apa?”
”Kuntilanak. Masa kalian enggak ngeh sih? Ih, enggak gaul deh!”
”Oh, ini toh Kuntilanak yang terkenal itu?”
”Em!”
”Apa itu ’em’???”
”Ember. Maksudnya emang bener. Ih, kalian kok ketinggalan banget ya bahasa gaul zaman sekarang di dunia manusia. Saya aja tau”, cibirnya.            

”Betewe bibir memble, memangnya saya terkenal ya?”. Kuntilanak itu terlihat sedikit bangga.
”Em!”, jawab Tanto, Tristan dan Tantri serentak.
”Apa itu ’em’?”, gantian Kuntilanak itu yang bertanya.
”Ember”
”Ih, yey ikut-ikutan saya deh. Dasar kopi kucing!”
”Apa tuh kopi kucing”
”Itu istilah buat orang yang suka niru-niru”
”Copycat, Mbak...bukan kopi kucing”.
”Cat artinya apa?”
”Kucing”
”Jadi bener dong kopi kucing”
”????”. Tantri, Tristan & Tanto saling berpandangan frustasi.

”Betewe gue kece, segimana terkenalnya sih saya di dunia kalian?”, tanya Si Kuntilanak antusias.
”Eh, bukan terkenal di dunia kami, tetapi di dunia pewayangan”.
”Serius loe?”. Kuntilanak itu terlihat surprise sambil menggunakan kedua jari telunjuknya menunjuk ke arah depan, persis remaja-remaja alay zaman sekarang.
”Iya”, jawab Tristan yakin.
”Jadi Hercules kenal saya dong?”
”Lho, kok Hercules?”
”Lho, Hercules bukan dari dunia wayang ya?”
”Mbak, dapat salam dari Echa”
”Siapa tuh Echa?”
”Nama lengkapnya Echa Puek Deh”.
”Nama yang aneh”, guman Kuntilanak itu nggak ngeh dengan ledekan Tristan.

”Mbak ini kan Bibi Kunti yang doyan punya anak itu kan?”
”Sembarangan ah. Saya dulu emang doyan bikin anak. Enak gila! Tetapi belum ada yang jadi tuh, abis keburu kepergok satpam. Hihihihihi, kasian deh saya”
”Lho, yang Pandawa Lima itu bukannya anak mbak?”.
”Yo olloh tollong!”. Kuntilanak bertingkah seperti baru kena setrum. ”Itu kunti yang beda kali, namanya Ibu Kunti. Saya mah kunti yang Kuntilanak itu, kembang desa di dunia dedemit ”.
”Oh, Bibi Kunti dan Kuntilanak beda toh?”, tanya Tanto dengan polosnya.
”Yo olloh tollong!”. Tanto, Tristan dan Kuntilanak serentak bertingkah seperti baru kena setrum saking jengkelnya.

”Betewe muka loe mirip pete, Mbak Kunti ngapain kesini?”
“Yo olloh tollong, pertanyaannya gitu banget deh. Nggak seneng ya gue mampir disini?”
“Bukan begitu. Maksudnya ada keperluan apa?”
”Mau nyulik bayi”, jawab Kuntilanak tanpa merasa berdosa.
”Emang di sini ada bayi?”, tanya Tanto.
”Tuh…”, Kuntilanak genit itu menunjuk Tristan tepat di hidung.

”Mbak rabun ayam kali. Masa body segede kingkong remaja gini dibilang bayi?”.
”Di dunia kami, orang yang tongkrongannya kayak gini disebut bayi, tetapi bayi  gurita. Hihihihihi”.
”Eh, jangan sembarangan kalo ngomong ya, Mbak!”, Tristan tersinggung sampai ke ubun-ubun. ”Mbak Kunti belum pernah kelilipan sisir ya?”.
”Kok sisir sih?”
”Abis, cuma itu senjata yang aku punya”.
”Sensitif amat sih, Bu. Lagi dapet ya?”, sindir Kuntilanak sambil mentowel pipi Tristan. ”Gue becanda kali. Gue enggak pernah nyulik bayi, itu kan kerjaan si ganjen Wewe Gombel”.


”Bener nggak sih mbak kalau kuntilanak itu berasal dari ibu-ibu yang meninggal karena melahirkan?”, tanya Tanto penasaran.
”Itu fitnah”
”Lho, kok fitnah?”
“Di mana-mana orang kalau meninggal ya perginya ke neraka atau ke surga, tergantungnya dapat tiketnya yang jurusan kemana waktu masih hidup. Nggak ada tuh orang meninggal terus berubah menjadi kuntilanak atau badak bercula satu”.

”Kalau Mbak Kunti dulunya berasal dari mana?”
”Tadinya gue ulat bulu, kemudian jadi kepompong”
”Lho, seharusnya Mbak jadi kupu-kupu dong”
”Harusnya sih begitu, tetapi mungkin salah resep waktu dalam adonan”.
”Adonan?”
”Hihihihi, itu cuma istilah saya aja. Ceritanya kan ulat makan daun, nah waktu itu saya makan jerami. Jadi pas waktunya keluar dari kepompong yang keluar justru kuntilanak, bukan kupu-kupu”.
”Tetapi gatalnya sama kan dengan ulat bulu?”, celutuk Tristan.
”Emang saya gatal ya? Perasaan saya enggak pernah garuk-garuk tuh”.
”Bukan gatal yang seperti itu, Mbak. Tetapi gatal yang maksudnya suka gangguin orang”.
”Eh, jangan sembarangan kalau nuduh. Belum pernah kelilipan taplak meja ya?”
”Lho, kok taplak meja?”
”Habis, cuma itu senjata yang saya punya. For your information ya, saya ini  kuntilanak yang punya martabat dan harga diri. Mine is mine, yours is yours. Dalam kamus saya, enggak ada cerita deh gangguin hidup orang”.

“Tetapi selama ini kita sering dengar orang-orang yang suka digangguin kuntilanak”
”Ah itu mitos”
”Kok mitos?”
”Sebenarnya justru manusia yang suka ngundang kita untuk gangguin mereka”
”Maksudnya?”
”Udah tau saya mangkal di lokasi tertentu, eh masih saja ada orang yang suka nongkrong di situ. Kalau cuma nongkrong sih nggak masalah, tetapi kalo sambil ngomong atau mikirin yang jorok-jorok kan saya jadi napsu. Eh...terganggu, maksudnya”.

”Terganggu karena menjadi tergoda untuk ikutan mikirin dan ngomongin yang jorok-jorok ya?”, ledek Tanto sambil nyengir. Kuntilanak itu hanya meringis malu-malu.
”Hihihihi, you know me so well, Beb”, jawabnya kenes.

”Ngomong dan mikirin yang jorok-jorok maksudnya membahas tentang anak babi yang main lumpur di tanah becek?”, tanya Tristan dengan polosnya. 
Kuntilanak melotot jengkel kearah Tristan.
”Yey umurnya berapa sih?”
”Enam belas tahun”, jawab Tristan masih dengan lugunya.
”Yey udah berbulu nggak?”
”Udah. Mau liat?”, tantang Tristan. Kuntilanak makin jengkel sampai ke ubun-ubun.
"Kamu mau pamer atau mau ngajak berkelahi?"

”Betewe tampang loe pedas kayak cabe, mbak kok suka nyanyi seriosa gitu? Sekali-sekali nyanyi lagu dangdut atau jazz dong”, Tanto mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum situasi semakin ngawur.
”Hihihihi, itu gue bukan lagi nyanyi seriosa tetapi lagi nangis”
”Kok nangis?"
"Kan udah dibilangin tadi kalau itu emang ciri khas saya. Di dunia hantu setiap individu sudah mendapat merek dagang masing-masing. Misalnya Mas Gen sebelum muncul akan memberi tanda seperti aroma sesuatu yang terbakar. Kalau Jeng Wewe ditandai dengan kawanan kelelawar yang hiruk pikuk. Nah kalo saya, ciri khasnya ya tersedu-sedu gitu. Emang melankolis dan lemah banget kesannya, tetapi itu sudah menjadi merek dagang saya. Terima aja dengan pasrah”. 
Kuntilanak menjelaskan dengan panjang lebar.  Tristan, Tanto dan Tantri manggut-manggut.
           
”Eh, saya pergi dulu ya. Kayaknya saya ada duty call nih, di daerah tempat mangkal saya sepertinya ada yang cowok-cowok lagi pipis sembarangan. Lumayan, cuci mata”.

”Jadi bener kan mbak nggak gangguin orang yang enggak gangguin mbak?”
“Em!. Intinya jangan saling mengganggu”
“Apa itu ’em’?”
”Yo olloh tollong, baru tadi dijelasin”
“Oh, ’em’ itu artinya ’yo olloh tolong’?”
“Dapat salam dari Echa. Nama lengkapnya eh..siapa tadi ya nama lengkapnya?”, tanya Kuntilanak itu kepada Tantri.
”Yeeee....”

“Udah ah, gue cabut dulu. Deeeeee...”
”Deeeee... Kapan-kapan ngobrol lagi ya”, seru Tristan.
”Yakin loe?”
”Hehehe, cuma basa-basi dong kok”. Tristan garuk-garuk betis.
”Dasar..”. 
Wusssssssss....dan Kuntilanak itupun menghilang di balik pepohonan.

Tuesday, 4 March 2014

Biarkan Aku Cemburu



Di SMA tempat aku sekolah saat ini, aku bukan termasuk siswa yang petakilan. Bahkan kata teman-temanku, aku itu agak-agak nggak gaul. Dunia memang kadang kejam. Masa gara-gara aku lebih memilih gentayangan di antara buku-buku perpustakaan daripada ngumpet di belakang kantin sekolah untuk merokok, aku dituduh nggak gaul? Heran!

Tetapi tuduhan teman-temanku  mungkin ada benarnya. Kalau kebetulan ada pelajaran kosong atau jam istirahat, aku lebih suka bersilaturahmi ke perpustakaan, meski kadang godaan untuk lirik-lirikan dengan cewek kelas sebelah di taman sekolah terlihat sangat menggoda. Atau bermain sepakbola di lahan kosong dekat kuburan di belakang kantin. Tetapi siapa yang peduli? Aku memang lebih suka berkutat dengan buku-buku fiksi dan biografi orang-orang terkenal.

Hari ini jam pelajaran ketiga dan ke-empat kosong. Pak Simanjuntak lagi-lagi rematiknya kumat, jadi beliau tidak masuk. Tentu saja ini merupakan kabar sukacita untuk seisi kelasku. Pak Simanjuntak adalah guru Matematika paling horor di sekolahku. Horor bukan karena ada hantunya, tetapi cubitan beliau cukup mematikan. Apalagi kalau ada siswa yang lupa mengerjakan PR, bakalan habis deh itu bodi bentol-bentol kena cubitan berbisa.

Ketika seisi kelas sudah berhamburan menuju alam masing-masing, aku langsung ngeloyor menuju perpustakaan. Setelah mengucapkan salam kepada Ibu Sri penjaga perpustakaan dan dibalas dengan seringai aneh, aku langsung berjalan menuju rak buku favoritku. Hari ini aku akan membaca kisah hidup Louis Pasteur sampe tuntas…tas…tas…tas! Persis seperti iklan terlambat datang bulan di TV.

Ketika sedang asyik membaca halaman kelima, tiba-tiba ekor mataku seperti menangkap sosok seseorang diujung sana. Glek!!! Mimpi apa aku semalam sehingga hari ini ada bidadari kesasar di perpustakaan. Ah, aku memang konyol. Sebenarnya dia bukan bidadari. Namanya Tantri, cewek kelas sebelah yang sudah aku taksir sejak hari pertama masuk sekolah. Wajahnya manis dan gayanya cuek. Sungguh cewek impian dan dambaan hati siang dan malam selama ini.

Aku hanya melirik sekilas, setelah itu aku pura-pura sibuk membaca meski jantung sudah dag dig dug crot. Aku bukan tipe cowok yang langsung jumpalitan ketika melihat cewek cakep seperti cowok yang belum pernah melihat cewek selama satu abad. Bahkan dengan cewek yang aku taksir, aku tetap suka pura-pura cuek. Tidak heran kalau banyak cewek yang aku taksir keburu disambar cowok lain.

Sosok itu mulai mendekati posisiku sambil sesekali dia mengaduk-aduk buku di atas rak yang sedang dia lewati.

“Hai…”. Tiba-tiba dia menyapa. Aku mengangkat kepalaku memandang dia, kemudian menoleh ke kanan, kiri dan belakang. Aku merasa tidak yakin dia menyapaku.
“Eh, hai…”, balasku kikuk.
“Lagi ngapain?”, tanya dia basa-basi. Ya ampun, basa-basi sih basa-basi, tetapi jangan basi amat dong.  Aku hanya tersenyum sambil mengangkat buku ditanganku. Dia sejenak memperhatikan judul buku yang aku pegang.

“Wah, berat!”
“Nggak. Bukunya tipis kok, jadi enggak berat sama sekali”. Dia tertawa kecil. Aduhhhh, manisnya…pasti cewek ini tiap hari dikerubuti semut.
“Maksudku buku yang kamu baca isinya berat. Tentang ilmuwan”.
Aku garuk-garuk betis karena salah tingkah. Ketahuan deh ‘lola’nya. Loading-nya lama maksudnya. Kirain apa gitu yang berat seperti hasrtaku padamu kasihku.

Dia kemudian kembali tekun mengaduk-aduk buku dirak sebelahku.

“Kamu sering ke perpustakaan kan?”, tanya dia lagi sambil masih sibuk mencari-cari buku. Aku diam. Pertanyaan nggak penting.
“Kamu sering keperpustakaan kan?’. Dia mengulang pertanyaannya, kali ini sambil menatapku serius.

Ya ampun. Tatapannya itu sungguh menusuk sekaligus menggoda imanku. Seolah-olah kalau terlalu sering mengunjungi perpustakaan adalah sebuah tindakan kriminal.
“Iya”, jawabku takut-takut. Nah, aku sudah ketularan menganggap hobby nongkrong di perpustakaan adalah melanggar hukum.
“Kebetulan!!!”, serunya tiba-tiba. Aku nyaris melonjak karena kaget. “Aku lagi nyari buku tentang puisi-puisi nih. Tetapi nggak ketemu dari tadi. Bisa bantuin aku nggak?”

Astaganaga. Mencari buku puisi di deretan rak buku-buku biografi sama saja dengan mencari bayi kucing di tumpukan kulit duren. Cantik-cantik, ternyata tulalit juga. Tetapi aku tetap suka kok. Menikahlah denganku.

Dengan mantap dan tanpa mengucapkan sepatah kata, aku langsung berdiri dan berjalan gagah menuju rak buku-buku Sastra di koridor paling Selatan. Dia berlari-lari kecil mengikutiku seperti anak anjing mengikuti induknya.

“Kalau mau nyari buku-buku puisi atau cerpen, nyarinya di rak buku Sastra”, ujarku sambil mempersilahkan dia mencari sendiri.
“Ya ampun. Kok aku enggak kepikiran ya mencari di rak buku Sastra. Hehehe…”, dia cengengesan. “Terima kasih ya. Kamu adalah pahlawanku”, pujinya kemudian. Kalau begitu, cium dong.

Wajahku mungkin sudah berubah warna menjadi pelangi gara-gara celutukannya yang terakhir. Tubuhku serasa langsung terbang ke langit-langit. Dasar norak! Kelihatan sekali belum pernah dipuji cewek. Buru-buru aku melambai sambil kembali ketempatku semula sebelum ketahuan kalau aku girang sekali dipuji seperti itu.

Sejak saat itu, Tantri mulai sering minta bantuanku. Ketika kelasnya sedang ada tugas untuk membuat karya tulis tentang bercocok tanam palawija atau bedah cerpen Sutan Takdir Alisyahbana atau referensi tentang ekosistem katak, dia langsung merayuku untuk menemaninya mencari buku-buku yang berhubungan dengan tugas-tugasnya itu.

Berhubung dia adalah siswi yang hanya tiga kali setahun mengunjungi perpustakaan, maka untuk mencari sebuah buku di perpustakaan dia bisa menghabiskan waktu seharian karena dia akan mencari dari sudut sebelah sini sampai ke sebelah itu.

Sementara dengan bantuanku, aku hanya perlu menunjuk dengan sekali tunjuk rak buku tertentu untuk menunjukkan lokasi buku yang dia cari. Maklum, sejak SD dan SMP perpustakaan sudah seperti daerah kekuasaanku karena hampir tiap hari aku kesana. Jadi aku sudah hafal buku apa letaknya disebelah mana.

Aku pikir dengan semakin intensnya pertemuanku dengan dia, maka akan semakin terbuka jalanku untuk mendekati dia. Bahkan aku sudah mulai lancang membayangkan dia akhirnya berhasil menjadi pacarku. Mungkin sekarang dia sudah mulai suka kepadaku karena dia sering minta bantuanku. Kata lirik lagu kan cinta bisa tumbuh seiring waktu berjalan.

Jam istirahat, aku langsung menuju perpustakaan. Tadi pagi aku dan Tantri janjian untuk bertemu di perpustakaan. Dia katanya membutuhkan buku tentang Revolusi Prancis sebagai referensi lomba debat yang akan dia ikuti minggu depan di Balai Kota.

Aku sudah menunggu selama sepuluh menit dan dia belum muncul juga. Sementara buku tebal dengan judul Revolusi TerBesar di Dunia tergeletak begitu saja dihadapanku. Perpustakaan yang sepi semakin mengukuhkan niatku. Ya, hari ini aku berniat akan menyatakan cinta kepada Tantri, tentu saja setelah aku membantunya mencari bahan tentang Revolusi Prancis. Mungkin setelah mendapat bantuanku, dia nanti akan merasa tidak enak untuk menolakku. Hahaha, aku memang sedikit licik.

Lima belas menit berlalu, akhirnya dia muncul. Tetapi dia tidak sendiri, dia datang bersama seorang cowok siswa kelas tiga yang (jujur saja ya) tidak lebih cakep dariku.
“Hai, sudah lama?”, sapanya ramah.
Aku hanya tersenyum simpul.
“Oh iya, kenalin dong. Ini cowokku. Dia juga sedang cari bahan fisika tentang Hidrodinamika.”.
Glek. Aku tercegat. Cowoknya? Gagal lagi deh. Ternyata cewek impian sudah keburu disambar orang lagi. Cowok itu mengulurkan tangannya setengah hati, matanya tetap menatap Tantri. Aku membalas uluran tangan cowok itu tak kalah ogah-ogahan, juga ikut-ikutan menatap Tantri. Emang enak?

“Ini bukunya, sudah ketemu”, ujarku sambil menyodorkan buku yang sejak tadi sudah aku temukan.
“Udah ketemu ya. Aduh, terima kasih”, seru Tantri girang. Dia menatap cowok di sebelahnya dengan mesra. Si cowok mengedipkan matanya genit. Keduanya mulai saling pandang-pandangan dan nyengir-nyengir nafsu. Puihhhh…menjengkelkan sekali. Dasar pasangan mesum. Get a room, please!

Aku sudah tidak tahan lagi. Bagai pemain sinetron, aku langsung berakting ala kadarnya.
“Eh, sorry ya. Aku ada PR yang belum aku kerjakan. Aku harus balik ke kelas nih sekarang”, ujarku buru-buru sambil hendak beranjak pergi.
“Eh, tunggu dulu. Revolusi Prancis ada di halaman berapa?”. Tantri menahan tanganku sambil mengacungkan buku tebal di tangannya.

“Lihat aja daftar isinya”, jawabku pendek. Aduhh, bidadariku ini masih saja tulalit.
“Buku hidrodinamikanya bagaimana?”, aku masih sempat mendengar teriakan Tantri di belakangku ketika aku melewati pintu keluar.
“Cari aja sendiri”, jawabku dalam hati.
“Di rak sebelah mana?”
“Cari aja di semua rak, nanti pasti ketemu kok”, jawab cuek sambil menghilang di balik pintu, melesat ke luar.

Berani taruhan, pasti tadi Tantri langsung dipelototi Ibu Sri. Di perpustakaan kan dilarang teriak-teriak. Ah, aku mungkin jahat. Tetapi yang namanya hati memang tidak bisa dibohongi. Aku cemburu.

Monday, 24 February 2014

Memeluk Sepi



“Ah…robek hatiku!!!”, desah Tasya. Lho, kok tumben Tasya si cewek alternatif itu berdangdut ria? Sambil merebahkan tubuh jangkungnya diatas kasur, matanya menerawang mengingat kejadian tadi siang disekolah.
Pas jam istirahat, tanpa sengaja Tasya bertubrukan dengan Rio – cowok anak kelas III yang  paling diincer diseantero SMU Duta Bangsa. Diincer bukan karena banyak hutangnya, tapi gara-gara Rio siswa baru di sekolah Tasya. Pindahan dari SMU di Bandung.

Tentu saja bukan cuma karena dia siswa baru, tapi lebih karena tampang dan bodynya yang diatas rata-rata. Mulai dari cewek kelas I sampai kelas III, guru-guru, tukang kebun, Satpam, sampai orang gila yang sering nongkrong di dekat gerbang sekolah kayaknya ngefans sama dia.

Untung insiden tabrakan antara Tasya dan Rio tadi siang enggak sampai melibatkan daerah-daerah terlarang Tasya, apalagi sampai mengakibatkan korban jiwa segala.
Kejadiannya cuma sebentar. Awalnya Tasya diledek’in sama Dewi sehingga Tasya merasa perlu menjitak Dewi sampai ke ubun-ubun. Tapi Dewi enggak pasrah dan mencoba menyelamatkan diri, sehingga terjadilah kejar-kejaran.

Dan BRUKKK…karena mengejar Dewi dengan membabibuta, Tasya tiba-tiba menabrak sesuatu yang sempat bikin kepalanya senat senut.
Tasya udah nyaris membuka mulut untuk mengeluarkan koleksi bahasa Ragunannya ketika tiba-tiba dia mendadak melongo demi melihat cowok cakep berdiri didepannya. Sama-sama kaget dan sama-sama mengusap jidatnya masing-masing yang barusan beradu.

“Zayn Malik?”, pekik Tasya norak.
“Raisa?”. Eh, si cowok ikut-ikut’an norak.
Tasya tersenyum geli, tapi kemudian tersadar dan segera minta maaf atas insiden barusan.

“Eh sorry ya. Tadi gue enggak ngeliat elo”.
“Nggak apa-apa kok. Lagian, latihan marathon kok di koridor sekolah sich?.         Kan ada lapangan”.
“Disengaja kok. Biar bisa nabrak-nabrak”, jawab Tasya cuek.
Cowok itu tersenyum simpatik bikin dentum dada Tasya semakin ser ser’an.
Rio kemudian mengulurkan tangannya.

“Rio”.
“Tasya”. Tasya membalas uluran tangan Rio dengan gaya sok cool.
“Sorry ya. Gue yang kuper atau elo yang baru nongol sekarang. Kok gue kayaknya belum pernah liat elo”.
“Gue baru tiga hari disini. Gue kelas III Fisika 1. Pindahan dari Bandung”.
“Oh pantes”.
“Pantes apa?”.
“Pantes cakep”.
Upssss, Tasya keceplosan.
“Nggak ada hubungannya”, sahut Rio cuek kemudian tanpa kata-kata ngeloyor pergi.
Tasya melotot gemas.

“Tega-teganya dia ninggalin gue begitu saja setelah perkenalan yang ala sinetron barusan. Dasar enggak sopan!”, rutuk Tasy dalam hati.
Saatnya melanjutkan buruan. Mana Dewi? Tasya kembali pasang kuda-kuda bersiap mencari Dewi untuk dibantai.

BRUKKK!!! Kembali Tasya menabrak sesuatu. Tasya berharap kali ini dia menabrak Justin Timberlake. Tapi?

“Eh copot eh kupret..eh lapis legit berkumandang selamanya!”. Tiba-tiba membahana suara jeritan latah yang susunan katanya sama sekali enggak kreatif.

“Aduh, Bu!. Kok nabrak-nabrak sih?”, omel Welly –siswa kelas II 7- cowok paling feminin disekolah Tasya sambil memperbaiki tatanan rambutnya yang asli sebenernya kelihatan tahan badai gara-gara dituangin segayung gel .

“Eh, sorry Wel. Abis elo kayak badak sih, jadinya ya gue tubruk”.
“Yeeee…bukannya elo yang kayak badak. Kan elo yang nyeruduk gue”.
“Tauk ah!”. Tasya kembali melanjutkan buruannya dan entah akan menabrak siapa lagi.


Bukan karena demam makanya Tasya panas dingin. Bukan karena bisulan makanya Tasya duduknya gelisah. Bukan karena cacingan pula makanya Tasya mati gaya. Bukan pula karena menderita sakit ayan makanya Tasya malam ini tidurnya sambil guling-guling kayak daging berbeque yang sedang dipanggang. Semua gara-gara Rio.

Ya Zayn Malik kesasar itu bener-bener mencuri perhatian Tasya. Tidak biasanya Tasya segitu terobsesinya sama mahluk bernama cowok. Biasanya sich justru cowok-cowok disekolah Tasya yang terobsesi sama Tasya. Maklum, meski bukan model tapi Tasya punya tongkrongan ala model. Tinggi langsing dan cantik. Kata orang sih perpaduan yang sempurna antara Raisa, Agnes Monica dan Olga Saputra. Hihihihihi.

Makanya Tasya terbiasa jadi pusat perhatian dan inceran cowok-cowok disekolahnya.
Tapi cowok yang bernama Rio itu benar-benar bikin Tasya mati kutu. Cuek banget dan sedikit angkuh. Padahal tadinya Tasya udah yakin kalo enggak lama lagi Rio juga bakal gabung sama cowok-cowok lain ngejar-ngejar Tasya. Tapi apa yang terjadi?


Siang tadi di kantin sekolah, boro-boro deh ngajak Tasya ngomong. Ngeliat aja enggak. Padahal mereka duduk di meja yang bersebelahan dengan temen nongkrong masing-masing.

Meski Tasya udah bela-bela’in tertawa terbahak-bahak dengan volume yang kayaknya terlalu berlebihan mendengar cerita Dewi yang sebenarnya enggak pernah lucu demi menarik perhatian Rio. Ya minimal Rio maunya noleh kek, melotot kek. Bahkan ditimpuk pake botol kosong bekas teh botolnya pun Tasya rela. Yang penting enggak dicuekin.  Kan udah kenalan 3 menit yang lalu.
\
Yang paling bikin Tasya agak-agak geregetan bin kesal bernuansa iri dengki, Rio malah melirik Fanny – cewek kelas II 3 yang terkenal ganjen dan gatel- yang memasuki kantin sambil loncat-loncat persis bayi tupai yang baru dilahirin induknya.
Sadar sedang dilirik mahluk kece, Fanny langsung melempar senyuman mautnya yang di mata Tasya justru lebih mirip senyuman mesum. Eh, Rio malah balik senyum.

Saking keselnya, Tasya pengen banget nyambit Fanny pake botol kecap yang ada di hadapannya dan menyuruh Fanny berhenti tebar pesona sama cowok gebetannya. Tapi apa iya sih Tasya punya hak melakukan itu?.

Ahhhhhhh, mikirin Rio benar-benar bikin Tasya serasa hidup segan, mati tak mau,  pingsan tak rela. Buktinya, meski jarum jam udah menujukkan jam satu dini hari, Tasya masih betah membayangkan raut wajah Rio sambil senyum-senyum gokil. Mungkin sambil melamunkan Rio dan dirinya lagi kejar-kejaran di pantai atau nyanyi sambil muter-muter dipohon kayak adegan khas film India.

“Oh, Rio. Menikahlah denganku”. Tasya terkikik geli sendiri mendengar rintihannya yang nadanya dibikin sok merana.


SMU Duta Bangsa gonjang-ganjing. Semua penghuninya pada heboh berlarian kesana kemari dengan wajah tegang. Padahal bukan lagi jam istirahat. Beberapa guru nampak berjalan tergsa-gesa menuju toilet siswa cowok.

Di depan pintu toilet sudah banyak siswa dan guru berkerumun. Tasya yang penasaran mencoba menyeruak kerumunan dan rasa ingin taunya membuat Tasya berusaha masuk ke dalam, tapi langsung dilarang Pak Satpam.

“Eh, dilarang masuk”, seru Pak Satpam sambil menghalangi siswa-siwi yang tidak tahan untuk menyelinap masuk. Tasya langsung mencari Dewi  di antara kerumunan siswa.

“Wi, ada apa sih?”. Tasya langsung bertanya begitu menemukan Dewi lagi ngerumpi di kerumunan bagian belakang.
“Ada siswa kelas III kepergok pingsan di toilet”.
“Lho, pingsan kok kepergok sih? Emangnya pingsannya diniat’in apa?”.
“Iya deh. Ada siswa ditemukan pingsan di toilet cowok. Puas?”. Dewi meralat tata bahasanya dengan cemberut. Tasya cengar-cengir.

‘Pingsan kenapa?. Karena enggak tahan mencium aroma toilet?”
“Kayaknya sih karena overdosis”.
“Hah? Overdosis?. Overdosis apa?”.
“Overdosis drugs dong. Mana ada orang overdosis gara-gara kebanyakan makan bakwan”. Tasya bergidik ngeri. Overdosis?. Drugs?. Disekolah?. Hiiiii…..

Tiba-tiba kerumunan di depan toilet sedikit tersibak dan memberi celah agar orang dari dalam toilet bisa berjalan keluar. Tasya dan Dewi langsung  mendekat.

Tampak Pak Satpam membopong sesosok tubuh berseragam SMU yang basah kuyup. Matanya terpejam, wajahnya pucat kayak zombie, dan nafasnya tersengal-sengal dan putus-putus. Tasya mencoba memperhatikan wajah siswa yang sedang mabok berat itu.

“Ya ampun, Wi. Itu kan Rio”. Tasya menarik tangan Dewi agar lebih dekat lagi.
“Iya. Dia emang Rio. Siswa yang baru 3 minggu pindah kesini” bisik Dewi pelan seolah takut didenger orang.

Tasya langsung berlari meninggalkan Dewi dan menjejeri langkah Pak Satpam yang sedang menuju mobil dinas sekolah di dekat gerbang sekolah sambil membopong tubuh Rio yang lemas tak berdaya.

“Mau dibawa kemana Pak?”.
“Ke Rumah Sakit terdekat. Harus segera ditangani serius nih. Kalo enggak, wah dia bisa’ lewat’”, jawab Pak Satpam tanpa menoleh ke Tasya.
“Segitu parahnya?”. Tasya lagi-lagi menggigil ngeri.

Semua mata menatap Rio yang sedang dibopong Pak satpam dengan pandangan  macam-macam. Ada yang menatap dengan pandangan prihatin, melecehkan bahkan jijik dan terkesan melecehkan. Sesosok tubuh tiba-tiba ikut menjejeri langkah Pak Satpam dan Tasya. Fanny berlari-lari kecil di sebelah Tasya. Tapi Tasya sama sekali enggak menangkap raut wajah khawatir di wajah Fanny. Padahal terakhir Tasya mendengar kabar kalo Fanny dan Rio udah jadian seminggu yang lalu.

Begitu tiba didekat mobil dinas, dengan sigap Tasya langsung membuka pintu belakang mobil. Pak Satpam membaringkan tubuh Rio di jok belakang, kemudian bersama seorang guru BP beliau duduk di jok depan mobil. Pak Satpam bersiap menyalakan mesin mobil.
Saat direbahkan, mata Rio terbuka sedikit. Ada segaris senyum samar di sudut bibirnya saat melihat Fanny yang masih berdiri di pintu mobil dengan wajah bete banget. Tangannya mencoba menggapai tangan Fanny, tapi enggak disangka Fanny malah menepiskan tangan Rio dengan kasar.

“Brengsek lo, Rio. Bikin malu aja. Mau jadi apa lo?”, bentak Fanny emosi. Pak Satpam yang duduk bibelakang setir mulai menstater  mobil.
“Fanny mau ikut ke rumah sakit?. Kita harus buru-buru”, tanya Pak Guru BP.
“Enggak deh, Pak. Biar aja dia mampus sekalian”.

PLAKKK!!!!. Refleks tangan Tasya melayang menghantam pipi Fanny. Tasya menatap Fanny dengan wajah marah.
“Apa hak lo nampar gue?”. Fanny mengusap-usap pipi kirinya yang terasa panas.
“Elo nggak punya perasaan”.
Fanny menantang tatapan Tasya tak kalah garang. Tapi Tasya segera sadar kalo sekarang bukan waktunya untuk berantem dengan Fanny.

Dengan gerakan cepat Tasya mendorong tubuh Fanny menyingkir dari pintu mobil hingga Fanny nyaris terjungkal, kemudian Tasya naik ke jok belakang dimana Rio berbaring tak berdaya. Tasya menutup pintu mobil dengan cepat karena dilihatnya Fanny bermaksud hendak menarik Tasya keluar dari mobil. Mungkin dia  nggak terima perlakuan Tasya dan pengen menantang Tasya berkelahi, atau Fanny justru berubah pikiran dan pengen ikut ke rumah sakit. Tasya enggak peduli dan enggak mau tau. Yang penting Rio harus segera dibawa kerumah sakit.

“Jalan Pak”, ujar Tasya.

Mobil pun dengan ngebut melintas meninggalkan gerbang sekolah dan Fanny yang masih berdiri mematung dengan wajah perang. Tangannya masih sibuk mengusap-usap pipi kirinya seolah-olah memastikan kalo pipinya masih ada di tempatnya atau sudah terlempar entah kemana gara-gara tamparan Tasya yang cukup mematikan tadi.

Di jok belakang mobil dinas sekolah SMU Duta Bangsa yang sedang buru-buru menuju rumah sakit terdekat, Tasya dengan  sangat hati-hati merebahkan kepala Rio yang lunglai di pangkuannya.

“Rio harus bisa berhahan ya. Semua akan baik-baik saja”. Tasya mencoba menyemangati Rio entah Rio bisa dengar atau tidak sambil sibuk menyeka keringat dingin yang membanjir di wajah dan leher Rio dengan sapu tangannya.

“Fannyyyyy…..”. Samar tapi cukup jelas, Tasya mendengar suara lirih Rio memanggil nama Fanny.
“Fanny nanti akan menyusul kita Rio. Semua akan baik-baik saja. Jangan takut”. Tasya berbisik lembut pelan.

Jarak sekolah dan rumah sakit terasa sangat jauh. Kondiri Rio sudah semakin lemah dan mengkawatirkan. Nafasnya tinggal satu-satu dan suhu tubuhnya terasa sangat dingin.

Tasya berdoa dalam hati semoga Rio akan baik-baik saja. Tasya tidak menyadari kalau sejak tadi Rio menggenggam pergelangan tangan kiri Tasya dengan sangat erat.
Bahkan Tasya tidak lagi memperhatikan ada sungai kecil mengalir pelan dari sudut mata Rio yang terpejam karena Tasya terlalu sibuk menahan tangisnya sendiri.